Fenomena keluarga broken home menjadi salah satu isu sosial yang cukup kompleks dan terus berkembang dalam masyarakat modern. Kondisi ini merujuk pada ketidakharmonisan keluarga yang dapat disebabkan oleh perceraian, konflik berkepanjangan, atau kurangnya kehadiran figur orang tua secara utuh. Dalam konteks perkembangan anak, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku sosial. Ketika fungsi keluarga tidak berjalan secara optimal, anak berpotensi mengalami gangguan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dengan lingkungan sekitarnya.
Dampak yang paling sering muncul pada anak dari keluarga broken home adalah kesulitan dalam berinteraksi sosial. Anak cenderung menjadi lebih tertutup, kurang percaya diri, dan sulit mempercayai orang lain. Hal ini disebabkan oleh pengalaman emosional yang tidak stabil di lingkungan keluarga, sehingga anak membawa perasaan tersebut ke dalam kehidupan sosialnya. Selain itu, beberapa anak juga menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan emosi yang tidak tersalurkan dengan baik di rumah. Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas hubungan mereka dengan teman sebaya maupun lingkungan sekolah.
Di sisi lain, tidak semua anak dari keluarga broken home menunjukkan dampak negatif secara ekstrem. Beberapa di antaranya justru mampu beradaptasi dengan baik dan menunjukkan kemandirian yang lebih tinggi. Faktor pendukung seperti lingkungan sosial yang positif, peran guru, serta dukungan dari keluarga besar dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa dampak broken home tidak bersifat mutlak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan perhatian khusus dari berbagai pihak, terutama orang tua, pendidik, dan konselor, dalam membantu anak menghadapi kondisi keluarga yang tidak utuh. Pendekatan seperti bimbingan dan konseling, penguatan nilai-nilai moral dan agama, serta penciptaan lingkungan sosial yang suportif dapat menjadi solusi untuk meminimalisir dampak negatif yang muncul. Dengan demikian, anak tetap memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal dan membangun hubungan sosial yang sehat meskipun berasal dari latar belakang keluarga broken home.
