Blog

  • Dampak Keluarga Broken Home terhadap Hubungan Sosial Anak

    Dampak Keluarga Broken Home terhadap Hubungan Sosial Anak

    Fenomena keluarga broken home menjadi salah satu isu sosial yang cukup kompleks dan terus berkembang dalam masyarakat modern. Kondisi ini merujuk pada ketidakharmonisan keluarga yang dapat disebabkan oleh perceraian, konflik berkepanjangan, atau kurangnya kehadiran figur orang tua secara utuh. Dalam konteks perkembangan anak, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku sosial. Ketika fungsi keluarga tidak berjalan secara optimal, anak berpotensi mengalami gangguan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dengan lingkungan sekitarnya.

    Dampak yang paling sering muncul pada anak dari keluarga broken home adalah kesulitan dalam berinteraksi sosial. Anak cenderung menjadi lebih tertutup, kurang percaya diri, dan sulit mempercayai orang lain. Hal ini disebabkan oleh pengalaman emosional yang tidak stabil di lingkungan keluarga, sehingga anak membawa perasaan tersebut ke dalam kehidupan sosialnya. Selain itu, beberapa anak juga menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan emosi yang tidak tersalurkan dengan baik di rumah. Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas hubungan mereka dengan teman sebaya maupun lingkungan sekolah.

    Di sisi lain, tidak semua anak dari keluarga broken home menunjukkan dampak negatif secara ekstrem. Beberapa di antaranya justru mampu beradaptasi dengan baik dan menunjukkan kemandirian yang lebih tinggi. Faktor pendukung seperti lingkungan sosial yang positif, peran guru, serta dukungan dari keluarga besar dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa dampak broken home tidak bersifat mutlak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.

    Berdasarkan hal tersebut, diperlukan perhatian khusus dari berbagai pihak, terutama orang tua, pendidik, dan konselor, dalam membantu anak menghadapi kondisi keluarga yang tidak utuh. Pendekatan seperti bimbingan dan konseling, penguatan nilai-nilai moral dan agama, serta penciptaan lingkungan sosial yang suportif dapat menjadi solusi untuk meminimalisir dampak negatif yang muncul. Dengan demikian, anak tetap memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal dan membangun hubungan sosial yang sehat meskipun berasal dari latar belakang keluarga broken home.

  • ANALISI DAMPAK KELUARGA

    ANALISI DAMPAK KELUARGA

    BROKEN HOME TERHADAP PRILAKU SOSIAL ANAK

    Kata Broken  home berasal  dari  dua  kata  yaitu broken  dan  home. Broken berasal  dari  kata  break yang berarti keretakan,sedangkan home mempunyai arti rumah atau rumah tangga.Broken homedapat dikatakan  sebagai  kekacauan  dalam  sebuah  keluarga.

    (Mistiani,  2020). Kekacauan  dalam  keluarga merupakan bahan pengujian umum karena semuaorang mungkin saja terkena salah satu dari berbagai jenisnya,dan  karena  pengalaman itu  biasanya  dramatis,menyangkut  pilihan  moral  dan  penyesuaian -penyesuaian pribadi yang dramatis.

    Angka  broken  home  di  Indonesia  dari  tahun  ke tahun  mengalami  peningkatan  yang  luar  biasa, tercatat pada tahun 2015, angka perceraian terdapat sekitar 350 ribu pasangan keluarga yang bercerai. Namun pada tahun 2021, perceraian di Indonesia meningkat menjadi sebanyak 580 ribu.Sehingga ada 580  ribu  (keluarga)  broken  home. 

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!